1
Jurnal Social Sains. Vol.1 No.1. Januari 2021
Jurnal Sosial Sains
Vol. 1 No.1, Januari 2021
p-ISSN: 2774-7018 e-ISSN: 2774-700X
PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN
PEGAWAI BADAN USAHA MILIK NEGARA
Iim Rohmatun Nahdiyyah, Moh. Taufik Hidayat, Nursahdin
Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
E-mail:
Diterima 23 Desember 2020
Diterima dalam bentuk revisi 2 Januari 2021
Abstract
This thesis entitled “Comparison Civil Public Servant of work productivity with Official Body
Effort Property Country (study comparison at Secretariat City Region of Cirebony with PT.
Indonesia Train). The problem of this research is the low productivity work at a state civil
official in Cirebon compared with work at official public ownership of the company at PT.
Indonesia Train Operation Region 3 Cirebon. This is seen from the indication in completing
work often experience errors and the frequency of delays in report generator. The hypothesis
of this research give rise to a significant difference in existence between civil public servant
work productivity at Secretariat City Region of Cirebon with official public ownership of the
company at PT. Indonesian Train Operation Region 3 Cirebon. The method of this research
is using the combination method with combining between quantitative method with the
qualitative method. The result of this research is the work productivity of Civil Public Servant
in Secretariat City Region of Cirebon and the work at official public ownership of the
company at PT Indonesian Train Operation Region 3 Cirebon is not optimal, as seen from its
success just reached 53,1 % with the total score 2210. This indicate that the work
productivity based on the teori is not optimal.
Abstrak
Penelitian ini berjudul “Perbandingan Produktivitas Kerja Pegawai Negeri Sipil dengan
Pegawai Badan Usaha Milik Negara” (studi perbandingan Sekretariat Wilayah Kota Cirebon
dengan PT Kereta Api Indonesia. Permasalahan dari penelitian ini adalah perbandingan dari
rendahnya produktivitas bekerja sebagai pejabat sipil negara dengan bekerja di kepemilikan
publik perusahaan resmi di PT Kereta Api Indnesia Wilayah 3 Cirebon. Hal ini dapat dapat
dilihat dari indikasi dalam menyelesaikan pekerjaan sering mengalami eror dan frekuensi
terjadinya kelambatan di pembuat laporan. Hipotesis penelitian ini menimbulkan perbedaan
eksistensi yang signifikan antara produktivitas pelayan publik sipil di Sekretariat Wilayah
Kota Cirebon dengan kepemilikan publik perusahaan resmi di PT Kereta Api Indonesia
Wilayah 3 Cirebon. Metode dari penelitian ini menggunakan metode kombinasi dimana
mengkombinasi metode penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Hasil penelitian
menunjukkan pelaksanaan produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Daerah
Kota Cirebon belum optimal sebagaimana terlihat dari keberhasilannya baru mencapai 53,1
% dengan skor total 2210. Hal tersebut menandakan bahwa produktivitas kerja berdasarkan
teori belum optimal.
2
Jurnal Social Sains. Vol.1 No.1. Januari 2021
Perbandingan Produktivitas Kerja Pegawai Negeri Sipil dengan Pegawai Badan Usaha Milik Negara
Kata Kunci: Produktivitas Kerja, Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Badan Usaha Milik Negara.
Pendahuluan
Pengertian Produktivitas dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
ditulis oleh Hizair berarti kemampuan
menghasilkan sesuatu atau kemampuan
menciptakan sesuatu. Produktivitas kerja
merupakan sikap mental. Sikap mental
yang selalu mencari perbaikan terhadap
apa yang telah ada. Suatu keyakinan
bahwa bahwa seseorang dapat melakukan
perbaikan terhadap apa yang telah ada.
Suatu keyakinan bahwa seseorang dapat
melakukan pekerjaan lebih baik hari ini
dari pada hari kemarin dan hari esok lebih
baik dari hari ini (Sutrisno, 2009).
Produktivitas erat kaitannya
dengan hasil kerja yang dicapai oleh
pegawai. Hasil kerja pegawai tersebut
merupakan produktivitas kerja sebagai
target yang didapat melalui kualitas
kerjanya dengan melaksanakan tugas yang
sesuai dengan peraturan yag ditetapkan
oleh organisasi. Kemudian dalam hal ini
dikemukakan beberapa faktor sebagaimana
yang dinyatakan sebagai indikator dari
produktivitas kerja Garry Desler antara
lain :
1. Kualitas Pekerjaan Kualitas
pekerjaan menyangkut mutu yang
dihasilkan. Seorang pegawai
dituntut untuk mengemukakan
kualitas daam pelaksanaan
tugastugasnya. Kualitas bagi
hampir semua orang tampaknya
berarti kualitas tinggi. Kehidupan
kerja yang berkualitas yaitu
keadaan dimana para pegawai
dapat memenuhi kebutuhannya
dengan bekerja di dalam
organisasi.
2. Kuantitas Pekerjaan Perkembangan
organisasi menurut adanya
kuantitas pekerjaan. Kuantitas
pekerjaan menyangkut pencapaian
target, hasil kerja, hasil kerja yang
sesuai dengan rencana organisasi
berupa jumlah yang harus
diselesaikan atau dicapai. Rasio
kuantitas pegawai harus seimbang
dengan kuantitas pekerjaan
sehingga dengan penimbangan
tersebut dapat menjdi tenaga yang
produktif untuk meningkatkan
produktivitas kerja di dalam
organisasi tersebut.
3. Ketepatan waktu
Pengetahuan akan orientasi waktu
yang berlainan dari budaya-budaya
tersebut dapat memberikan
wawasan ke dalam pentingnya
tenggang waktu.
(Dharma, 2004)
Tujuan nasional tersebut hanya
dapat terealisasi melalui suatu rangkaian
program-program pembangunan yang
menyeluruh, terarah dan terpadu yang
berlangsung terus menerus, rangkaian
program-program inilah yang kita kenal
dengan istilah pembangunan nasional.
Pembangunan Nasional merupakan
upaya sistematis pemerintah dalam
segenap kemampuannya untuk
melaksanakan upaya perbaikan dan
pertumbuhan demi memenuhi kebutuhan
dalam rangka mencapai kesejahteraan.
Pembangunan adalah suatu usaha atau
serangkaian usaha pertumbuhan dan
perubahan yang berencana yang dilakukan
secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan
pemerintah, menuju modernitas dalam
rangka pembinaan bangsa. (Siagian, 2009).
Untuk meningkatkan pembangunan
tersebut harus ditunjang oleh beberapa
sumberdaya diantaranya sumber daya
Iim Rohmatun Nahdiyyah, Moh. Taufik Hidayat, Nursahdin
3
manusia dalam hal ini aparatur pemerintah
yang merupakan faktor terpenting dalam
pelaksanaan pembangunan, dimana
keberhasilan Pembangunan Nasional
tersebut sangat diperlukan adanya aparatur
pemerintah yang andal dalam
menyelenggarakan tugas-tugas pemerintah
yang dilandasi kesetian dan ketaatan
kepada Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Undang-Undang Nomor 05
Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil
Negara Pasal 1 Ayat 2 adalah Pegawai
Negeri adalah setiap warga negara
Republik Indonesia yang telah memenuhi
syarat yang ditentukan, diangkat oleh
pejabat yang berwenang dan diserahi tugas
dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi
tugas negara lainnya dan gaji berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Keberhasilan pembangunan akan
tercapai jika ditunjang oleh aparat
pemerintahan yang mempunyai sikap dan
mental yang baik sehingga dapat
melaksanakan tugasnya secara baik.
Pegawai Negeri Sipil merupakan usur
aparatur Negara yang bertugas
memberikan pelayanan kepada masyarakat
secara professional, jujur, adil dan merata
dalam penyelenggaraan tugas negara,
pemerintahan dan pembangunan.
Produktivitas kerja merupakan
bagian yang sangat penting yang harus
dimiliki oleh Pegawai, baik itu Pegawai
Negeri Sipil maupun Pegawai Badan
Usaha Milik Negara supaya bisa mencapai
tujuan organisasi. Pegawai merupakan
unsur pelaksana kegiatan dalam organisasi,
dalam pelaksanaannya di perlukan
produktivitas kerja yang optimal supaya
bisa mencapai tujuan organisasi yang
optimal pula, begitu juga dengan Pegawai
Negeri Sipil di Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dan pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) Daerah Operasi III Cirebon
dituntut untuk memiliki produktivitas kerja
yang optimal demi tercapainya tujuan
organisasi.
Berdasarkan pengamatan yang
penulis lakukan di Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dan di PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) Daerah Operasi III Cirebon di
temukan adanya perbedaan produktivitas
kerja antara Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon dengan
Pegawai Badan Usaha Milik Negara di PT.
Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon. Perbedaan tersebut
ialah Produktivitas Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon lebih
rendah dibandingakan dengan Pegawai
Badan Usaha Milik Negara di PT. Kereta
Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi III
Cirebon hal tersebut terlihat dari beberapa
indikasi diantaranya:
1. Dalam menyelesaikan pekerjaan
kurang sesuai dengan hasil yang
diharapkan. Hal tersebut terlihat
dari pelaksanaan pekerjaan sering
mengalami kesalahan
2. Penyelesaian pekerjaan kurang
sesuai dengan waktu yang
diharaapkan, hal ini terlihat dalam
pembuatan laporan sering
mengalami keterlambatan.
Adapun tujuan penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui produktivitas
kerja Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon;
2. Untuk mengetahui produktivitas
kerja pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah Operasi
III Cirebon;
3. Untuk mengetahui perbedaan
produktivitas kerja Pegawai Negeri
Perbandingan Produktivitas Kerja Pegawai Negeri Sipil dengan Pegawai Badan Usaha Milik Negara
4
Jurnal Social Sains. Vol.1 No.1. Januari 2021
Sipil di Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dengan pegawai Badan
Usaha Milik Negara di PT. Kereta
Api Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon;
4. Untuk mengetahui hambatan-
hambatan yang ditemukan dalam
meningkatkan produktivitas kerja
Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat
Daerah Kota Cirebon dibandingkan
dengan pegawai Badan Usaha
Milik Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah Operasi
III Cirebon.
Metode
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian
kombinasi, dalam penelitian ini
mengkombinasikan atau menggabungkan
antara
metode
penelitian
kuantitatif
dengan
metode
kualitatif.
(Sugiyono,
2014).
Model penelitian kombinasi yang
digunakan adalah model penelitian
Concurrent Triangulation Strategy yaitu
dengan menggunakan metode kuantitatif
dan kualitatif secara besama-sama, baik
dalam pengumpulan data maupun
analisisnya, kemudian membandingkan
data yang diperoleh sehingga dapat
ditemukan mana data yang dapat
digabungkan atau dibedakan atau
dibandingkan.
Hasil dan Pembahasan
Sesuai dengan anggapan dasar
yang telah dikemukakan bahwa untuk
menganalisa produktivitas kerja Pegawai
Negeri Sipil di Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dilakukan dengan cara menelaah
indikator-indikator produktivitas kerja
menurut Garry Dasler dalam Dharma
(2004:335). Indikator-indikator tersebut
diantaranya adalah :
1. Kualitas Pekerjaan;
2. Kuantitas Pekerjaan;
3. Ketepatan Waktu.
Indikator-Indikator tersebut akan
dijabarkan secara jelas dalam bentuk
pertanyaan angket sehingga dari jawaban
tersebut akan diperoleh gambaran tentang
produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon. Angket
yang disebarkan merupakan pertanyaan
yang disertai alternatif jawaban responden
sebagai pendapat dari sikap responden
yang didasari oleh fakta sebenarnya
dilapangan.
Dari hasil angket yang diperoleh
menunjukan bahwa pelaksanaan
produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon
memperoleh skor sebesar 2210 tergolong
pada katagori cukup baik. Dimensi 1
(Kualitas Pekerjaan) persentasenya 53, 7
%. Dimensi 2 (Kuantitas Pekerjaan)
persentasenya 53, 75 %. Dimensi 3
(Ketepatan waktu) persentasenya 52,1 %.
Hal ini membuktikan bahwa tingkat
produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil
(PNS) di Sekretariat Daerah Kota Cirebon
sudah mengacu pada indikator-indikator
produktivitas kerja akan tetapi dalam
pelaksanaannya belum optimal.
Sesuai dengan anggapan dasar
yang telah dikemukakan bahwa untuk
menganalisa produktivitas kerja Pegawai
Badan Usaha Milik Negara di PT. Kereta
Api Indonesia (Persero) daerah Operasi III
Cirebon di lakukan dengan cara menelaah
indikator - indikator produktivitas kerja
menurut Garry Dasler dala Dhakukrma
0,05 maka dengan demikian hipotesis yang
penulis ajukan adalah Ho ditolak. Dengan
kata lain H1 diterima atau H1 benar yaitu
adanya perbedaan yang signifikan antara
Iim Rohmatun Nahdiyyah, Moh. Taufik Hidayat, Nursahdin
5
produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon dengan
produktivitas kerja Pegawai Badan Usaha
Milik di PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) Daerah Operasi III Cirebon.
Berdasarkan data kualitatif hasil
wawancara dan pengamatan yang penulis
lakukan dapat dikemukakan beberapa
faktor yang membedakan produktivitas
kerja Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat
Daerah Kota Cirebon dengan Pegawai
Badan Usaha Milik Negara di PT. Kereta
Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi III
Cirebon Regulasi Pemerintah, Sekretariat
Daerah Kota Cirebon dengan PT. Kereta
Api Indonesia (Peresero) Daerah Operasi
III Cirebon memiliki regulasi atau payung
hukum yang berbeda, Sekretariat Daerah
Kota Cirebon lebih taat kepada peraturan
pemerintah terutama dalam hal penyedian
Anggaran Dasar dan Belanja Daerah
(APBD), kegiatan kesekeretariatan dalam
hal mengkoordinasikan Dinas Daerah dan
Lembaga Teknis Daerah harus di
sesuaikan dengan ketersediaan Anggaran
Dasar dan Belanja Daerah (APBD) pada
setiap tahun Anggaran. Sedangkan di PT.
Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon tidak berpatokan
kepada Anggaran Dasar dan Belanja
Daerah (APBD), PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) Daerah Operasi III Cirebon
memiliki kebebasan dan wewenang yang
seluas-luasnya untuk melaksanakan
berbagai kegiatan di perusahaan dengan
tujangan keluarga, tunjangan pangan dan
tunjangan jabatan ada tunjangan
perumahan, tunjangan refresentatif dan
tunjangan kinerja, khusus untuk masinis
ada tunjangan risiko. Sedangkan tunjangan
yang diberikan kepada Pegawai Negeri
Sipil hanya diberikan tunjangan keluarga,
tujangan pangan, dan tunjangan jabatan
saja.
Sebagaimana telah dibahas tentang
produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon dan
produktivitas kerja Pegawai Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah Operasi III
Cirebon ternyata belum optimal. Hal
tersebut disebabkan oleh adanya faktor-
faktor penghambat, faktor penghambat
dalam meningkatkan produktivitas kerja
yang dialami oleh Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota Cirebon dengan
Pegawai Badan Usaha Milik Negara di PT.
Kereta Api Indoneesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon mengalami hambatan
yang berbeda.
Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan oleh penulis dengan Sekretaris
Daerah Kota Cirebon, didapat keterangan
bahwa faktorfaktor penghambat tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Koordinasi dan Komunikasi,
Sekretariat Daerah memiliki
beberapa bagian yang sangat
kompleks sehingga menyulitkan
pegawai untuk menjalin koordinasi
dan komunikasi baik itu antara
pegawai dengan pegawai maupun
pegawai dengan pimpinan;
2. Kompetensi Pegawai, Pegawai
Negeri Sipil di Sekretariat Daerah
Kota Cirebon memiliki
kemampuan yang berbeda dalam
menyelesaikan pekerjaan hal ini
disebabkan oleh perbedaan latar
belakang dan pendidikan pegawai
3. Pengawasan, Pengawasan dari
pimpinan baik itu dari Sekretaris
Daerah maupun Kepala di setiap
bagian yang belum optimal
menjadi peluang bagi para pegawai
untuk tidak menyegerakan dalam
menyelesaikan pekerjaan
4. Sarana dan Prasarana, Keadaan
sarana dan prasarana menjadi salah
satu penghambat dalam
pelaksanaan kerja para pegawai
Perbandingan Produktivitas Kerja Pegawai Negeri Sipil dengan Pegawai Badan Usaha Milik Negara
6
Jurnal Social Sains. Vol.1 No.1. Januari 2021
mengingat ada beberapa bangunan
di lingkungan Sekretariat Daerah
yang sudah 20 tidak layak pakai
sehingga ada beberapa bagian yang
terpaksa harus pindah ruangan
selain itu kurang tersedianya sarana
perlengkapan kantor seperti tempat
arsip atau filling cabinet sehingga
banyak arsip yang berceceran di
setiap ruangan selain itu tidak ada
mesin foto copy di dalam
lingkungan Sekretariat Daerah
Kota Cirebon sehingga pegawai
harus keluar kantor bila akan
menggandakan surat, naskah atau
dokumen lainnya yang menyita
waktu kerja pegawai.
Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan penulis dengan Vice President
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon, didapat keterangan
bahwa faktorfaktor penghambat tersebut
adalah sebagai berikut
1. Koordinasi dan Komunikasi, PT.
Kereta Api Indonesia (Persero)
memiliki beberapa seksi yang
sangat kompleks dan luas tersebar
di beberapa stasiun besar seperti
Stasiun Kejaksan, Stasiun
Parujakan, Stasiun Jatibarang dan
stasiunstasiun kecil laninya terlebih
PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Daerah Operasi III Cirebon adalah
organisasi vertikal yang memiliki
hubungan dan keterkaitan dengan
PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
pusat, hal menyulitkan pegawai
untuk menjalin koordinasi dan
komunikasi baik itu antara pegawai
dengan pegawai maupun pegawai
dengan pimpinan
2. Kompetensi Pegawai, Pegawai
Badan Usaha Milik Negara di PT.
Kereta Api Indonesia (Persero)
Daerah Operasi III Cirebon
memiliki kemampuan yang
berbeda dalam menyelesaikan
pekerjaan hal ini disebabkan oleh
perbedaan latar belakang dan
pendidikan pegawai.
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini
adalah:
1. Pelaksanaan produktivitas kerja
Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota
Cirebon belum optimal
sebagaimana terlihat dari
keberhasilannya baru mencapai
53,1 % dengan skor total 2210.
Hal tersebut menandakan
bahwa produktivitas kerja
berdasarkan teori belum
optimal;
2. Pelaksanaan produktivitas kerja
Pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon belum
optimal sebagaimana terlihat
dari keberhasilannya baru
mencapai 65.7 % dengan skor
2692. Hal tersebut menandakan
bahwa produktivitas kerja
berdasarkan teori belum
sepenuhnya terlaksana atau
pelaksanaannya belum optimal;
3. Terdapat perbedaan antara
produktivitas kerja Pegawai
Negeri Sipil di Sekretariat
Daerah Kota Cirebon dengan
Pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah
Operasi Kota Cirebon dengan
signifikasi sebesar 0,000 atau
(kurang dari ) 0,05. Perolehan
nilai rata-rata produktivitas
kerja Pegawai Negeri Sipil di
Iim Rohmatun Nahdiyyah, Moh. Taufik Hidayat, Nursahdin
7
Sekretariat Daerah Kota
Cirebon sebesar 34,52
sedangkan produktivitas kerja
Pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon
memperoleh nilai rata-rata
sebesar 42,76. Maka hipotesis
yang penulis ajukan adalah Ho
ditolak atau dengan kata lain
H1 diterima atau H1 benar.
Adapun faktor yang
membedakan perbedaan
produktivitas kerja antara
Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dengan Pegawai Badan
Usaha Milik Negara di PT.
Kereta Api Indonesia (Persero)
Daerah Operasi III Cirebon
adalah Regulasi Pemerintah,
Tujuan Organisasi,
Pengawasan, Iklim Kerja serta
Gaji dan Tunjangan;
4. Hambatan-hambatan yang di
hadapi dalam meningkatkan
produktivitas kerja Pegawai
Negeri Sipil di Sekretraiat
Daerah Kota Cirebon dan
Pegawai Badan Usaha Milik
Negara di PT. Kereta Api
Indonesia (Persero) Daerah
Operasi III Cirebon ternyata
setelah diamati faktor
penghambat yang dihadapi oleh
Pegawai Negeri Sipil di
Sekretariat Daerah Kota
Cirebon dengan Pegawai Badan
Usaha Milik Negara di PT.
Kereta Api Indoneesia
(Persero) Daerah Operasi III
Cirebon mengalami hambatan
yang berbeda yaitu :
a. Hambatan-Hambatan yang
di hadapi dalam
meningkatkan Produktivitas
Kerja Pegawai Negeri Sipil
(PNS) di Sekretraiat Daerah
Kota Cirebon diantaranya :
1. Koordinasi dan
Komunikasi yang masih
kurang optimal baik itu
koordinasi dan komunikasi
antara pegawai dengan
pimpinan maupun pegawai
dengan pegawai; 2.
Kompetensi Pegawai yang
masih kurang kompeten
dalam menyelesaikan tugas;
3. Pengawasan pimpinan
baik itu Sekretaris Daerah
maupun tiap Kepala Bagian
masih belum optimal; 4.
Sarana dan Prasarana,
keadaan prasarana atau
gedung yang kurang layak
pakai dan kurangnya sarana
kelengkapan kantor seperti
lemari arsip atau filling
cabbiet dan mesin foto
copy.
b. Hambatan-hambatan yang
di hadapi dalam
meningkatkan produktivitas
kerja Pegawai Badan Usaha
Milik Negara di PT. Kereta
Api Indonesia (Persero)
Daerah Operasi III Cirebon
diantaranya : 1. Koordinasi
dan Komunikasi yang
masih kurang optimal baik
itu koordinasi dan
komunikasi antara pegawai
dengan pimpinan maupun
pegawai dengan pegawai;
2. Kompetensi Pegawai
yang masih kurang