Jurnal Indonesia Sosial Sains

http://jiss.publikasiindonesia.id/

 

Vol 1, No, 4, November 2020,

P-ISSN:2723 - 6692 dan E-ISSN:2723 - 6595

 

 

ANALISIS PERANAN BUDAYA TABEDALAM MENJAGA KERUKUNAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT UNIT KESENIAN SULAWESI SELATAN ITB

                                                                     

Fadlan Azrialsyah, Samuel, Denise Yahya Miharja, dan Athayya Sharfina Farahiyah

Institut Teknologi Bandung

Email: fadlanazrialsyah@students.itb.ac.id, samuelsuwandi@students.itb.ac.id, denise_yahya@sbm-itb.ac.id,  dan athayya.sharfina.f@gmail.com

 

           Artikel info          

 

                                                                                                           

Artikel history:

Diterima : 28 Oktober 20200

  Diterima dalam bentuk   revisi 10 November 2020

Diterima dalam bentuk revisi 20 November 2020

 

 

 

 

 

 

Keywords: Tabe culture'; People of Sulawesi; South Sulawesi Arts Unit (UKSS) ITB; Harmony

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

Budaya tabe’; Masyarakat Sulawesi; Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS) ITB; Kerukunan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abstract: This study aims to determine the views of South Sulawesi students during the pandemic on the influence of Tabe 'Culture in maintaining harmony. The method used in this research is quantitative research methods using literature study and questionnaires to collect data. The questionnaire in the form of a Google Forms survey was given to South Sulawesi students, especially members of the ITB South Sulawesi Arts Unit. The results showed that most of the respondents considered Tabe 'culture as a cultural heritage that is important to be preserved and remains relevant to the times. The maximum application of the Tabe 'Culture can increase harmony and reduce conflict in social life. This research is useful for providing information about the views of South Sulawesi students, especially members of the ITB South Sulawesi Arts Unit on Tabe 'Culture, and can be used as a basis for consideration of decision making regarding efforts to preserve local culture to maintain harmony in social life.

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan mahasiswa Sulawesi Selatan di masa pandemi terhadap pengaruh Budaya Tabe’ dalam menjaga kerukunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan studi pustaka dan kuesioner untuk mengumpulkan data. Kuesioner dalam bentuk survei Google Forms diberikan kepada mahasiswa Sulawesi Selatan, khususnya anggota Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap Budaya Tabe’ sebagai budaya warisan yang penting untuk dilestarikan dan tetap relevan terhadap perkembangan zaman. Penerapan Budaya Tabe’ secara maksimal dapat meningkatkan kerukunan dan mengurangi konflik dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai pandangan mahasiswa Sulawesi Selatan, khususnya anggota Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB terhadap Budaya Tabe’, serta dapat dijadikan sebagai salah satu dasar pertimbangan pengambilan keputusan yang menyangkut upaya pelestarian kebudayaan lokal untuk menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat.

 

 

Coresponden author:                                          Email:fadlanazrialsyah@students.itb.ac.id

                              artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

                                                          CC BY

 

 

 

Pendahuluan

Kerukunan diartikan sebagai kehidupan bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Implikasi nyata dari kerukunan berarti hidup secara damai dengan adanya toleransi dan kesediaan untuk menerima perbedaan. Kerukunan mencerminkan sebuah hubungan timbal balik dengan sikap saling menerima, saling mempercayai, dan saling menghormati. Konsep kerukunan berkaitan erat dengan kondisi keseimbangan sosial masyarakat yang berada dalam situasi damai serta bebas konflik. Konflik disebabkan karena tidak terciptanya kerukunan dalam masyarakat. Keberadaan beberapa faktor kepentingan yang saling bersinggungan mengakibatkan terjadinya ketidakharmonisan hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa tindakan yang dapat menyebabkan konflik diawali dengan adanya tindakan yang tidak menghormati hak orang lain, perlakuan buruk kepada orang lain, atau tindakan yang melupakan keberadaan prinsip yang dipegang oleh orang lain.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan mahasiswa Sulawesi Selatan, khususnya anggota Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB terhadap pengaruh penerapan Budaya Tabe’ sebagai upaya memelihara kerukunan dalam masyarakat dan kondisi Budaya Tabe’ selama masa pandemi. Menurut Septiani dan Tumadi, Budaya Tabe’ dilakukan dengan cara membungkukkan setengah badan kemudian mengulurkan tangan kanan ke bawah sambil melangkah melewati orang tersebut lalu mengatakan tabe’ (Nurhuda Septiani Z., 2020). Nilai terkandung dalam budaya tabe’ adalah sipakatau (tidak membeda-bedakan semua orang), sipakalabbi (saling menghormati), sipakainga (saling mengingatkan) (Fadly, 2020). Penerapan nilai-nilai luhur Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge yang terkandung di dalam Budaya Tabe’ dapat menjadi solusi untuk menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat. Penelitian yang sudah ada sejauh ini terbatas pada pembahasan mengenai penerapan Budaya Tabe’ masyarakat Sulawesi Selatan terhadap norma hukum dan penumbuhan karakter. Belum terdapat penelitian mengenai pandangan mahasiswa Sulawesi Selatan terhadap pengaruh Budaya Tabe’ dalam menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat serta kondisi Budaya Tabe’ selama masa pandemi. Manfaat dari penelitian dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pelestarian kebudayaan lokal dan menjadi solusi dalam menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat. Hasil penelitian juga dapat digunakan untuk menambah wawasan mengenai pandangan anggota Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB terhadap Budaya Tabe’.

 

 

 

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data merupakan tahapan utama dalam penelitian untuk menjawab tujuan awal. Penelitian metode kuantitatif menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai permasalahan yang diteliti (Kasiram, 2008). Adapun metode pengumpulan data yang menggunakan Kuesioner dilakukan dengan memberikan dua belas pertanyaan dengan spesifikasi. Pertanyaan tersebut disebarkan melalui Google Forms secara online kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB. Kuesioner digunakan sebagai data primer yang akan dianalisis secara kritis dan mendalam. Diperoleh 54 tanggapan dari total 108 anggota aktif Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB. Terdapat sebelas soal pilihan ganda dari dua belas soal pertanyaan sehingga kuesioner mudah diisi dan dianalisis.

 

Hasil dan Pembahasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Pemahaman Dan Penerapan Budaya Tabe’

Oleh Masyarakat Sulawesi Selatan

Tabe’ merupakan sinonim dari kata permisi dan mohon maaf sehingga memiliki tujuan utama untuk menjunjung tinggi rasa hormat kepada sesama. Prinsip utama penerapan Budaya Tabe’ adalah menghormati orang yang lebih tua serta menyayangi orang yang lebih muda (Bumbungan & Ciba, 2018). Seseorang yang mengerti makna nilai-nilai kesopanan dalam Budaya Tabe’ akan selalu berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa 87% responden mengetahui makna dan keberadaan Budaya Tabe’. Umumnya, penerapan Budaya Tabe’ masih sering dilakukan oleh 65,3% responden, sedangkan 30,6% responden yang mengetahui makna dan keberadaan Budaya Tabe’ tidak sering menerapkan Budaya Tabe’. Menurut 55,6% responden, Budaya Tabe’ masih banyak dilakukan oleh masyarakat Sulawesi Selatan, sedangkan menurut 40,7% responden, Budaya Tabe’ hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa Budaya Tabe’ masih relatif dilakukan oleh masyarakat Sulawesi Selatan secara umum. Pendapat responden sebagai salah satu anggota masyarakat Sulawesi Selatan telah menunjukkan bahwa penerapan Budaya Tabe’ oleh diri sendiri dan masyarakat Sulawesi Selatan lainnya masih banyak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Generasi pemuda Sulawesi Selatan relatif masih aktif melestarikan Budaya Tabe’.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


             

 

 Gambar 2. Dampak Pandemi

           Terhadap Intensitas Penerapan Budaya Tabe

Interaksi sosial merupakan hubungan terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok yang dapat saling mempengaruhi sehingga menimbulkan hubungan saling timbal balik (Effendy, 2007). Interaksi sosial pada umumnya merupakan kebutuhan setiap manusia. Setiap manusia merupakan makhluk sosial, maka dari itu setiap mereka membutuhkan interaksi dengan sesamanya (Xiao, 2018). Pembatasan Sosial Berskala Besar pada setiap daerah membatasi masyarakat untuk berkunjung ke wilayah tertentu sehingga menurunkan tingkat interaksi sosial dalam masyarakat secara signifikan.

Penurunan interaksi sosial dalam masyarakat secara fisik terjadi baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran budaya yang dapat diamati dari perubahan aktivitas dalam masyarakat.

Tidak beribadah di tempat ibadah, tidak berbelanja di pasar, belajar dan bekerja dari rumah, serta menjaga kebersihan dengan maksimal merupakan beberapa contoh pergeseran budaya yang terjadi selama masa pandemi.

Data hasil pengamatan menunjukkan 72,2% responden berpendapat bahwa penerapan Budaya Tabe tidak mengalami peningkatan selama masa pandemi. Pembatasan Sosial Berskala Besar mengurangi segala aktivitas di luar rumah sehingga kesempatan masyarakat untuk menerapkan Budaya Tabe’ hanya terbatas di dalam lingkungan rumah. Menurunnya interaksi individu dengan masyarakat luas lebih mungkin menyebabkan terjadinya penurunan penerapan Budaya Tabe’ dibandingkan terjadinya kondisi stagnan.

Masyarakat perlu tetap menjaga pelaksanaan Budaya Tabe’ di dalam lingkungan rumah sehingga tetap terbiasa dan dapat langsung menerapkan Budaya Tabe’ kembali secara normal dalam kehidupan bermasyarakat setelah pandemi berakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3. Faktor-Faktor Penyebab Budaya Tabe’ Semakin Memudar

Dari Kehidupan Bermasyarakat

Faktor keluarga merupakan faktor yang pertama kali mempengaruhi penerapan Budaya Tabe’ sejak dini. Budaya Tabe’ berperan besar dalam pembentukan karakter anak serta perkembangan sifat santun dan hormat (Rahim, 1985). Tanpa peranan orang tua, seorang anak akan kehilangan contoh awal perilaku menghargai orang lain sejak kecil. Seseorang yang telah memasuki tahap dewasa cenderung lebih sulit untuk menerima dan mengalami perubahan nilai budaya. Pemahaman yang rendah akan tindakan menghormati orang lain menyebabkan seseorang memandang orang lain dengan sebelah mata sehingga tidak mempedulikan keberadaan hak yang setara.

Faktor pergaulan, penyemangat, dan lingkungan tergolong ke dalam faktor eksternal yang berasal dari lingkungan sekitar. Budaya Tabe’ berakar kuat sebagai etika di dalam tradisi dan dapat dianggap sama seperti pelajaran hidup yang didasarkan pada akal sehat dan rasa hormat terhadap sesama (Najib, 1996). Budaya Tabe’ penting untuk diterapkan ke dalam interaksi di tengah kehidupan bermasyarakat. Hilangnya nilai-nilai Budaya Tabe’ akan menimbulkan kejadian-kejadian yang dapat mengganggu kerukunan di lingkungan masyarakat.

Faktor media massa dan teknologi modern yang merupakan pengaruh dari globalisasi telah memberikan kontribusi yang besar untuk memudahkan berbagai aktivitas sehari-hari. Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak secara terus menerus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu sendiri. Kemudian kehadiran teknologi informasi dan komunikasi mempercepat akselerasi dari proses globalisasi tersebut. (Suneki, 2012). Namun, banyak informasi dalam berbagai bentuk yang tidak tersaring dengan baik dapat menyebabkan degradasi nilai dan budaya lokal (Mubah, 2011). Budaya dan nilai-nilai tradisional yang mengandung kearifan lokal serta memiliki relevansi yang tinggi terhadap perkembangan zaman mulai hilang dalam masyarakat karena tergantikan oleh berbagai nilai asing.

Data hasil pengamatan menunjukkan pendapat responden terhadap faktor yang menyebabkan pemudaran Budaya Tabe’ dalam kehidupan bermasyarakat. 25,9% responden berpendapat faktor keluarga berperan terhadap pemudaran Budaya Tabe’, 64,8% responden berpendapat faktor pergaulan berperan terhadap pemudaran Budaya Tabe’, 81,5% responden berpendapat faktor media massa dan perkembangan teknologi berperan terhadap pemudaran Budaya Tabe’.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi lunturnya Budaya Tabe’ adalah faktor media massa dan perkembangan teknologi. Arus globalisasi yang berjalan dengan cepat menjadi ancaman bagi eksistensi Budaya Tabe’. Globalisasi tidak dapat dicegah, namun dampak negatif yang menyebabkan pemudaran kebudayaan lokal dapat di minimalisir. Globalisasi harus disikapi dengan bijaksana sebagai produk modernisasi yang positif serta bermanfaat untuk mendorong masyarakat mencapai kesejahteraan bersama.

Masyarakat tidak boleh lengah sehingga membiarkan keterbukaan dan kebebasan menimbulkan pengaruh negatif yang merusak kebudayaan lokal. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, dibutuhkan strategi untuk meningkatkan daya tahan kebudayaan lokal melalui pembangunan jati diri bangsa, penerbitan peraturan daerah, dan pemanfaatan teknologi informasi untuk memperkenalkan Budaya Tabe’ secara luas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. Relevansi dan Tingkat Kepentingan Penerapan Budaya Tabe’ Terhadap Kerukunan Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Budaya Tabe’ memiliki beberapa macam penerapan, salah satu contoh penerapan Budaya Tabe’ dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan mengatakan Tabe’ sambil membungkukkan setengah badan ketika ingin melewati orang-orang tua yang sedang berbicara (Abdu, 2007). Budaya Tabe’ merupakan budaya yang secara turun temurun telah dilestarikan oleh masyarakat Sulawesi Selatan sehingga diharapkan generasi selanjutnya ikut berkontribusi untuk tetap melestarikan Budaya Tabe’.

Data hasil pengamatan menunjukkan 64,8% responden menganggap pewarisan Budaya Tabe’ sangat penting untuk dilakukan, sedangkan 25,9% responden menganggap pewarisan Budaya Tabe’ penting untuk dilakukan dan 9,3% responden menganggap pewarisan Budaya Tabe’ lumayan penting untuk dilakukan. 51,9% responden menganggap Budaya Tabe’ sangat berpengaruh terhadap kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan 37% responden menganggap Budaya Tabe’ berpengaruh terhadap kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. 96,3% responden menganggap Budaya Tabe’ tetap relevan untuk diterapkan.

Secara keseluruhan, responden menganggap pewarisan, relevansi, dan pengaruh Budaya Tabe’ terhadap kerukunan masyarakat bernilai positif. Masyarakat Sulawesi Selatan sadar akan pentingnya pewarisan Budaya Tabe’ dan peduli terhadap kelestarian Budaya Tabe’ di zaman modern. Budaya Tabe’ harus tetap dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tetap melekat di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Budaya Tabe’ terdiri dari tiga nilai utama. Nilai Sipakatau yang bertujuan untuk saling menghormati dan mengakui segala hak tanpa memandang status sosial sehingga meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama. Nilai Sipakalebbi yang bertujuan untuk saling menghargai dan senantiasa memperlakukan orang lain dengan baik. Nilai Sipakainge yang bertujuan untuk saling mengingatkan dalam menjalani kehidupan bersama di masyarakat (Syarif, 2016).

Kelestarian dan pengetahuan mengenai esensi dari Budaya Tabe’ harus tetap dilestarikan di masa mendatang karena memiliki makna yang mendalam untuk saling menghormati sesama dan tidak mengganggu satu sama lainnya. Dengan terciptanya masyarakat yang memiliki toleransi dan saling menghormati, kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat dapat dipelihara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 5. Derajat Kerukunan dan Konflik Masyarakat Sulawesi Selatan

Saat Ini dan Sesudah Terjadi Penerapan Budaya Tabe’ Secara Maksimal

Kerukunan menciptakan suasana damai dan kehidupan yang selaras sehingga terhindar dari konflik yang dapat menimbulkan perpecahan. Konflik terjadi ketika suatu pihak memiliki persepsi yang negatif terhadap pihak lain (Wahyudi, 2015). Munculnya konflik dalam masyarakat dapat menimbulkan perpecahan yang mengarah pada disintegrasi bangsa.

Data hasil pengamatan menunjukkan 46,3% responden beranggapan bahwa kerukunan di antara masyarakat Sulawesi Selatan tergolong sedang, sedangkan 42,6% responden beranggapan bahwa kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan tergolong tinggi. Selain itu, 61% responden beranggapan bahwa ukuran konflik yang terjadi tergolong sedang, sedangkan 22,2% responden beranggapan bahwa ukuran konflik yang terjadi tergolong tidak tinggi. Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya masyarakat Sulawesi Selatan tidak sepenuhnya hidup dengan rukun, terdapat beberapa konflik yang tetap dijumpai dalam batasan tertentu. Keberadaan korelasi negatif antara konflik dengan kerukunan menunjukkan bahwa di dalam sebuah masyarakat yang rukun, kecil peluang terjadinya konflik.

Tingkat kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan masih dapat ditingkatkan lebih jauh lagi. Salah satunya dengan cara meningkatkan intensitas Budaya Tabe’ diantara masyarakat Sulawesi Selatan. 44,4% responden berpendapat bahwa jika Budaya Tabe’ diterapkan secara maksimal, tingkat kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan akan menjadi tinggi. Bahkan, terdapat 48,1% responden berpendapat bahwa tingkat kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan akan menjadi sangat tinggi jika Budaya Tabe’ dapat diterapkan secara maksimal.

Tingkat konflik masyarakat Sulawesi Selatan masih dapat dikurangi secara signifikan melalui berbagai upaya, salah satunya dengan menerapkan Budaya Tabe’ secara maksimal. 46,3% responden berpendapat bahwa jika Budaya Tabe’ diterapkan secara maksimal, tingkat konflik di Sulawesi Selatan tidak akan menjadi tinggi. Bahkan, terdapat 20,4% responden berpendapat bahwa tingkat konflik masyarakat Sulawesi Selatan akan menjadi sangat rendah jika Budaya Tabe’ dapat diterapkan secara maksimal.

Meskipun Budaya Tabe’ hanya terlihat sebagai tindakan sederhana, namun Budaya Tabe’ memiliki makna yang mendalam untuk menjaga kerukunan di antara masyarakat serta mengurangi timbulnya konflik. Seseorang yang tidak mempraktekkan Budaya Tabe’ dalam kehidupan sehari-hari akan mendapatkan pandangan negatif dari masyarakat. Hal ini dapat menjadi pemicu awal konflik karena individu tersebut dianggap tidak mengerti tata krama dan tidak menghormati masyarakat.

 

Kesimpulan

Budaya Tabe’ merupakan kebudayaan yang erat kaitannya dengan masyarakat Sulawesi Selatan. Melalui pembahasan data hasil pengamatan, terdapat beberapa kesimpulan mengenai pengaruh Budaya Tabe’ bagi kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan. Pertama, sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan mengetahui Budaya Tabe’. Terdapat banyak masyarakat Sulawesi Selatan yang masih menerapkan Budaya Tabe’ dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, tidak terjadi peningkatan pelaksanaan Budaya Tabe’ selama masa pandemi. Keberadaan Pembatasan Sosial Berskala Besar membatasi masyarakat untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar rumah sehingga lebih mungkin menyebabkan terjadinya penurunan penerapan Budaya Tabe’ dibandingkan terjadinya kondisi stagnan. Ketiga, media massa dan teknologi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab pemudaran Budaya Tabe’ dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Melalui media massa dan teknologi banyak informasi yang tidak tersaring dengan baik sehingga dapat melunturkan budaya sopan santun dalam masyarakat. Keempat, sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan masih menganggap nilai-nilai Budaya Tabe’ sebagai hal yang penting. Budaya Tabe’ dianggap sebagai bentuk sopan santun yang berkontribusi menciptakan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. Kelima, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa tingkat kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan sudah cukup baik. Namun, tingkat kerukunan masyarakat Sulawesi Selatan masih dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya pelestarian Budaya Tabe’. Penerapan nilai-nilai luhur Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge yang terkandung di dalam Budaya Tabe’ dapat berkontribusi menjaga kerukunan kehidupan bermasyarakat sehingga intensitasnya harus ditingkatkan setelah masa pandemi berakhir.


 

Bibliografi

Abdu, S. H. A. U. (2007). Pengaruh Nilai Bugis Terhadap Perilaku Masyarakat. Kabupaten Bone. Makassar.

Bumbungan, B., & Ciba, B. (2018). Menumbuhkan Karakter Siswa Berbasiskan Budaya Lokal Tabe’ di Era Digital.

Effendy, O. U. (2007). Interaksi sosial. In Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (p. 32). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2016). Retrieved from https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Kasiram, M. (2008). Penelitian Kuantitatif. In Metodologi Penelitian: Kualitatif dan Kuantitatif . Uin-Maliki Press.

Mubah, S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal Departemen Hubungan Internasional Airlangga, 24(4).

Syarif, E. (2016). Integrasi Nilai Budaya Etnis Bugis Makassar Dalam Proses Pembelajaran Sebagai Salah Satu Strategi Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jurnal Universitas Negeri Malang.

Wahyudi, A. (2015). Konflik, Konsep Teori dan Permasalahan. Jurnal Publiciana, 8(1), 38–52.

Septiani, N. S., & Tumadi, N. H. (2020). Penerapan Budaya Tabe’ Suku Bugis pada Generasi Milenial sebagai Bentuk Norma Hukum.

Fadly, M. F., Hikmah, N., Safitri, A. N. (2020). Budaya Tabik (Tabe’) sebagai Nilai Pendidikan Karakter Bagi Generasi Milenial. Jurnal Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Xiao, A. (2018). Konsep Interaksi Sosial dalam Komunikasi, Teknologi, Masyarakat. Jurnal Komunikasi, Media, dan Informatika.

Rahman, R. A. (1985). Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University

Najib, M. (1996). Demokrasi dalam Perspektif Budaya Nusantara. Yogyakarta : Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia(LKPSM).

Suneki, S. (2012). Dampak Globalisasi Terhadap Eksistensi Budaya Daerah. Jurnal Ilmiah Civis, 2(1), 310.

Kawasati, R., & Iryana. (2019). Teknik Pengumpulan Data Metode Kuantitatif. Sorong: STAIN Sorong.

Aisyah, S., Adnan, M., Indahsari, N., Ulfa, R., Agunk, V. (2018). Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data. Jurnal Universitas Muhammadiyah Jember.

Mattulada. (1998). Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Mattulada. (1995). Latoa, suatu lukisan analitis terhadap Antropologi Politik orang Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.