Jurnal Indonesia Sosial Sains

http://jiss.publikasiindonesia.id/

 

Vol 1, No, 3, Oktober 2020,

P-ISSN:2723 - 6692 dan E-ISSN:2723 - 6595

 

 

MODAL SOSIAL BEAS PERELEK: ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN

STARTEGI ELABORASI DI ERA MILENIAL

 

Nurul Aidatul Fitriah, Brilianza Azharul Mujahidin, Adi Nugraha dan Wiwiek Rindayani

Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680, Indonesia

Email: nurul_datul22@apps.ipb.ac.id, brilianza_am@apps.ipb.ac.id, nugraha_adi@apps.ipb.ac.id, dan wiwiekrinda@yahoo.com

 

           Artikel info          

 

                                                                                                           

Artikel history:

Diterima : 03 Oktober 2020

  Diterima dalam bentuk   revisi 13 Oktober 2020

Diterima dalam bentuk revisi 17 Oktober 2020

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

beas perelek; elaboration; millennial; rapfish-MDS method

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata kunci : Pengetahuan, Pergaulan Bebas, Remaja dan Sikap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abstract: Indonesia is a country with high social capital. However, with the times and the high flow of globalization, it has caused the fading of the spirit of mutual cooperation and concern for others.. In West Java, reviving the beas perelek is a solution. However, a question arises whether this tradition can be applied in the era of the millennial generation as it is today. The purpose of this research is to describe the implementation and to analyze the potential for sustainability of the prize fund in West Java society and to provide recommendations for elaboration strategies in the application of the prize fund in the millennial era. This research method is qualitative with the tectic of collecting data from literature studies. The sustainability analysis technique uses the rapfish-MDS method and the SWOT method to formulate a free elaboration strategy for men in the millennial era. The results showed the continuity of the free tradition in the good category with continuing status. To improve its implementation, it is necessary to carry out an elaboration strategy so in accordance  with the era.

 

Abstrak: Indonesia merupakan negara dengan modal sosialnya yang tinggi. Namun seiring perkembangan zaman dan tingginya arus globalisasi, menyebabkan lunturnya semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Di Jawa Barat, menghidupkan tradisi beas perelek menjadi sebuah solusi. Akan tetapi mucul sebuah pertanyaan apakah tradisi tersebut bisa diterapkan di era generasi milenial seperti sekarang ini.  Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanan dan menganalisis potensi keberlanjutan beas perelek di masyarakat Jawa Barat serta memberikan rekomendasi strategi elaborasi dalam penerapan beas perelek di era milenial. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dengan tektik pengumpulan data studi literatur. Teknik analisis keberlanjutan menggunakan metode rapfish-MDS dan metode SWOT untuk menyusun strategi elaborasi beas perelek di era milenial. Hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan tradisi beas perelek pada kategori baik dengan status berlanjut. Untuk meningkatkan pelaksanaannya, perlu dilakukan strategi elaborasi sehingga sesuai dengan perkembangan zaman.

 

 

Coresponden author:                                          Email: nurul_datul22@apps.ipb.ac.id  

                              artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

                                                          CC BY

 

 

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan modal sosialnya yang tinggi. Modal sosial yang melekat dengan Indonesia antara lain gotong-royong dan kepedulian terhadap sesama. Namun, tingginya arus globalisasi telah menyebabkan lunturnya semangat gotong royong, solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan sosial (Nurhaidah, Musa, 2015). Menurut data (Global Hunger Index, 2019) tingkat kelaparan di Indonesia tergolong dalam tingkat serius. Hal ini sangat ironis mengingat fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat food waste tertinggi kedua di dunia (The Economist Intelligence Unit (EIU)., 2017). Satu sisi banyak golongan masyarakat yang masih menderita kelaparan, namun golongan masyarakat lain justru membuang makanannya.

Di Jawa Barat, menghidupkan tradisi merupakan salah satu strategi untuk mengembalikan keberadaan modal sosial di Indonesia. Salah satu tradisi yang dapat menjawab tantangan tersebut adalah tradisi beas perelek (Shonhaji, 2017). Akan tetapi, tradisi ini kini mulai dipertanyakan keberlanjutannya karena pada pelaksanaannya di berbagai daerah, masyarakat yang berperan kebanyakan adalah golongan tua. Padahal tidak lama lagi Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang didominasi oleh generasi milenial.

Generasi milenial (generasi Y) merupakan generasi yang lahir pada era milenial dan memiliki kemampuan dalam mengakses teknologi informasi yang lebih baik. Generasi ini lebih menyukai sesuatu yang bersifat instan (Peramesti & Kusmana, 2018). Oleh karena itu, diperlukan strategi elaborasi yang sesuai sehingga tradisi beas perelek dapat terus berlanjut dan berkembang di era milenial.

Tujuan Penelitian

 Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka disusun tujuan dalam penelitian sebagai berikut:

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Mendeskripsikan pelaksaan beas perelek di masyarakat Jawa Barat.

2. Menganalisis potensi keberlanjutan beas perelek di masyarakat Jawa Barat.

3. Memberikan rekomendasi strategi elaborasi dalam penerapan beas perelek di era milenial.

 

Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan data yang digunakan berasal dari jurnal, artikel, dan sumber lainnya yang berasal dari internet. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi literatur (library research). Teknik studi literatur merupakan penelitian yang dilakukan dengan menelaah dan mengumpulkan sejumlah jurnal, buku, artikel, serta informasi lainnya yang berkaitan dengan masalah dan tujuan peneliti (Supriyadi., 2017). Maka penelitian ini dilakukan dengan cara menelaah dan membadingkan sumber kepustakaan untuk memperoleh data yang bersifat teoritis. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 Flowchart strategi pencarian sampel

Metode yang digunakan adalah analisis keberlanjutan beas perelek menggunakan metode Rapfish-MDS. Untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu sistem/lembaga digunakan tiga dimensi, yakni ekonomi, sosial, dan ekologi (Fauzi & Anna, 2002). Dimensi-dimensi tersebut dibagi ke dalam atribut-atribut yang telah disusun dan disesuaikan dengan literatur dan diberikan score pada masing-masing atribut. Penilaian terhadap atribut dalam skala ordinal berdasarkan hasil studi literatur. Analisis ordinasi dengan MDS untuk menentukan posisi status keberlanjutan pada setiap dimensi dalam skala indeks keberlanjutan (Alder et al., 2000).

Tabel 1 Kategori indeks dan status keberlanjutan

Nilai Indeks

Kategori

Keterangan

0- 25

Buruk

Tidak Berkelanjutan

26 - 50

Kurang

Kurang Berkelanjutan

51 - 75

Cukup

Cukup Berkelanjuran

76 - 100

Baik

Berkelanjutan

Sumber : Fauzi dan Anna 2005

Dalam membuat strategi elaborasi beas perelek  di era milenial  menggunakan analisis SWOT dengan membandingkan antara faktor eksternal peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) dengan faktor internal kekuatan (strenghts) dengan kelemahan (Weakness) (Rangkuti 2006) pada Tabel 2. Maka hasil dari perpanduan antara faktor internal dan eksternal dapat mencetusan strategi elaborasi beas perelek yang dapat diterapkan pada masyarakat era milenial

 

 

 

Kekuatan  (Strenght- S)

Kelemahan  (Weekness-W)

Peluang  (Opportunities - O)

Strategi SO

Menggunakan kekuatan internal untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal

Strategi WO

Memperbaiki kelemahan internal dengan mengambil keuntungan dari peluang eksternal

Ancaman (Threats-T)

Strategi ST

Menggunakan kekuatan internal untuk menghindari dampak ancaman eksternal

Strategi WT

Taktik defensif untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal

        Sumber : David 2012

                                        

Hasil dan Pembahasan

1.      Deskripsi Beas Perelek

Tradisi beas perelek merupakan tradisi budaya sunda yang sudah turun temurun dari zaman dahulu dengan beras yang diambil oleh kepalan tangan kemudian disimpan ke dalam suatu wadah. Praktik ini hampir dilakukan di seluruh daerah Provinsi Jawa Barat (Rusnandar, 2016). Tradisi beas perelek terus berkembang hingga saat ini. Cara pelaksanaan yang umum masih dilakukan hingga saat ini. Namun nilai positif yang terkandung dalam tradisi ini tampaknya dipandang perlu ditransformasikan kepada generasi muda. Alasan tersebut membuat salah satu sekolah di Purwakarta yaitu SMP 3 Tegalwaru mengimplementasikan tradisi beas perelek di lingkungannya. Sejalan dengan kemajuan teknologi. Kabupatan Purwakarta saat ini telah menerapkan sistem E Perelek. Inovasi ini dilakukan agar program beas perelek bisa lebih efektif, efisien, dan dapat diakses secara publik (Putri & Amal, 2019).

Beas Perelek terbukti telah memberikan manfaat di berbagai daerah, baik dari segi ekonomi maupun sosial. Salah satu contohnya adalah di Desa Cilandak, Kabupaten Purwakarta yang dapat membangun masjid dari hasil beas perelek (Shonhaji, 2017). Model-model yang serupa dengan beas perelek banyak dilakukan diberbagai daerah Indonesia, misalnya jimpitan atau sinoman di Jawa, tradisi julo-julo di masyarakat minang, tradisi adat persaudaraan dan kamar kepala di Kalimantan (RH Sumardhani, 2019). Demi menjaga keberlanjutan tradisi-tradisi tersebut, masyarakat telah melakukan beberapa penyesuaian atau inovasi namun tetap menjaga nilai filosofisnya.

2.      Analisis Keberlanjutan beas perelek

a.  Dimensi Ekonomi

Hasil ordinasi RAPFISH diuji dengan menggunakan analisis Monte Carlo untuk menilai kestabilan dari nilai indeks keberlanjutan (konteks penelitian) yang dihasilkan. Analisis tersebut memperlihatkan adanya plot yang mengumpul/mengelompok. Hal ini berarti bahwa hasil ordinasi dalam menentukan status keberlanjutan (konteks penelitian) pada dimensi ekonomi berada pada posisi yang stabil dan tidak mengalami gangguan. Berdasarkan Gambar 2 nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi adalah sebesar 76,62 pada skala sustainabilitas 0–100.

Gambar 2 Hasil Simulasi Monte Carlo untuk Dimensi Ekonomi

Analisis sensitivitas dimensi ekonomi dengan metode analisis leverage attributes pada Raphish memperlihatkan bahwa atribut memenuhi kebutuhan umum/kebutuhan bersama  adalah atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan program beas perelek. Nilai root mean square change dari dimensi ekonomi pada analisis leverage dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Analisis Distribusi Sensitivitas Atribut pada Dimensi Ekonomi

b.      Dimensi Sosial

Hasil ordinasi RAPFISH diuji dengan menggunakan analisis Monte Carlo untuk menilai kestabilan dari nilai indeks keberlanjutan (konteks penelitian) yang dihasilkan. Hasil analisis Monte Carlo memperlihatkan adanya plot yang mengumpul/mengelompok. Hal ini berarti bahwa hasil ordinasi dalam menentukan status keberlanjutan (konteks penelitian) pada dimensi sosial berada pada posisi yang stabil dan tidak mengalami gangguan. Berdasarkan Gambar 4 nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah sebesar 85,06 pada skala sustainabilitas 0–100.

Gambar 4 Hasil Simulasi Monte Carlo untuk Dimensi Sosial

 

Analisis sensitivitas dimensi sosial dengan metode analisis leverage attributes pada Raphish memperlihatkan bahwa atribut jaring pengaman sosial  adalah atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan program beas perelek. Nilai root mean square change dari dimensi sosial pada analisis leverage dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Analisis Distribusi Sensitivitas Atribut pada Dimensi Sosial

c.       Dimensi Ekologi

Hasil ordinasi RAPFISH diuji dengan menggunakan analisis Monte Carlo untuk menilai kestabilan dari nilai indeks keberlanjutan (konteks penelitian) yang dihasilkan. Hasil analisis Monte Carlo memperlihatkan adanya plot yang masih mengumpul/mengelompok. Hal ini berarti bahwa hasil ordinasi dalam menentukan status keberlanjutan (konteks penelitian) pada dimensi ekologi berada pada posisi yang stabil dan tidak mengalami gangguan. Berdasarkan Gambar 6 nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 85,92 pada skala sustainabilitas 0–100.

Gambar 6 Hasil Simulasi Monte Carlo untuk Dimensi Ekologi

Analisis sensitivitas dimensi ekologi dengan metode analisis leverage attributes pada Raphish memperlihatkan bahwa atribut lama pelaksanaan program di lingkungan masyarakat  adalah atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan program beas perelek. Nilai root mean square change dari dimensi ekologi pada analisis leverage dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Analisis Distribusi Sensitivitas Atribut pada Dimensi Ekologi

3.    Analisis Strategi Elaborasi Beas Perelek di Era Milenial

Beas perelek menjadi salah satu budaya masyarakat Sunda yang memiliki manfaat yang sangat berguna bagi membantu kondisi pangan, khususnya masyarakat Sunda. Oleh sebab itu, agar mengetahui strategi elaborasi beas perelek dapat dilaksanakan di era milenial, maka harus mengetahui apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang dari beas perelek yang dapat dijelaskan melalui analisis SWOT yang diperoleh dari berbagai literatur yang tersedia (Tabel 3).

Tabel 3 Matriks Pengelompokan SWOT

Ancaman (Threats-T)

 

1.     Perkembangan zaman yang terus berkembang (globalisasi).

2.     Masyarakat yang heterogen.

3.     Masyarakat yang oportunis, apatis, dan koruptif.

Kekuatan (Strenghts-S)

 

1.    Membantu pemenuhan pangan bagi masyarakat kurang mampu.

2.    Dapat digunakan simpanan (lumbung) dalam penanggulangan bencana atau masa paceklik.

3.     Dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur ataupun kebutuhan umum seperti perbaikan masjid, konsumsi rapat RT/RW, dll.

4.    Menolong masyarakat yang sakit ataupun terkena musibah.

5.    Memupuk solidaritas masyarakat.

6.    Memperlancar program sosial lain seperti ronda, kampung KB, dll.

7.    Melatih rasa kepedulian dan keikhlasan masyarakat untuk saling berbagi.

8.    Membangun tenggang rasa dan cinta kasih.

9.    Sebagai sistem jaring pengaman sosial.

10.    Beas parelek sudah terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari.

 

Kelemahan (Weekness-W)

 

1.      Tidak semua daerah di Jawa Barat menjalankan beas perelek.

2.      Ketidakpercayaan terhadap pengelola.

3.      Ketidakpahaman masyarakat mengenai pelaksanaan beas perelek.


 

Peluang (Opportunities - O)

 

1.      Penerapan peraturan daerah maupun peraturan desa.

2.      Inovasi teknologi dalam penerapan beas perelek.

3.      Dapat direvitalisasi menjadi sebuah pranata sosial.

 

Berdasarkan Tabel 3 dapat menunjukkan masing-masing faktor eksternal dan faktor internal yang ada dalam beas perelek. Dari keempat faktor tersebut akan dianalisis untuk mengetahui situasi dan strategi yang dapat diciptakan dalam memaksimalkan adanya kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan terjadinya ancaman agar tradisi beas perelek ini dapat terus dilaksanakan di era milenial ini. Untuk mengetahui strategi elaborasi beas perelek dapat dilaksanakan di era milenial, maka harus mengetahui apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang dari beas perelek kemudian dilakukan analisis strategi SO, WO, ST, WT dari keempat faktor tersebut.

Strategi SO (kekuatan-peluang): 1) Inovasi teknologi beas perelek berupa pelaksanaan dan bentuk objek beas perelek, seperti mengunakan aplikasi dan objeknya berupa uang atau e-money. 2) Mengoptimalkan pelaksanaan beas perelek dengan membuat suatu kebijakan, seperti pemerintah Jawa Barat membuat pemda mengenai pemda beas perelek. 3) Beas perelek yang berbasis nilai-nilai budaya lokal dapat direvitalisasi sebagai sebuah pranata ekonomi yang menunjang dan mendukung ekonomi masyarakat.

Strategi WO (kelemahan-peluang): 1) Dibuatnya aturan pemda untuk menerapkan beas perelek di seluruh desa, seperti pemda beas perelek yang diterapkan diseluruh daerah di Jawa Barat. 2) Membuat skema/vidio edukasi mengenai beas perelek (perangkat, pelaksanaan, manfaat). 3) Membuat suatu aplikasi yang dapat menjamin program ini berlangsung dengan transparan.

Strategi ST (kekuatan-ancaman): 1) Memupuk solidaritas, melatih rasa kepedulian dan keikhlasan masyarakat untuk saling berbagi serta membangun tenggang rasa dan cinta kasih dengan cara meperlancar program sosial masyarakat. 2) Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa beras perelek sebagai sistem jaring pengaman sosial tentu memiliki keuntungan yang dampaknya dapat dirasakan seluruh kalangan masyarakat. 3) Mengkondisikan pelaksanaan beas perelek yang transparan sehingga tindakan koruptif bisa di minimalisasi.

Strategi WT (kelemahan-ancaman): 1) Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelola beas perelek seharusnya dapat dihilangkan dengan pelaksanaan program yang transparan. 2) Perkembangan zaman seharusnya tidak membuat modal sosial masyarakat semakin luntur, namun ini harus diubah menjadi kekuatan. Dengan berkembangnya zaman, maka semakin mudah komunikasi antar masyarakat karena kemajuan teknologi di bidang komunikasi. 3) Ketidakpahaman masyarakat terhadap pelaksanaan beas perelek akan berbanding lurus dengan masyarakat yang apatis. Untuk itu, perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat terkait alur pelaksanaan program hingga keuntungan dari program ini, baik secara langsung maupun melalui pemanfaatan teknologi komunikasi.

 

Kesimpulan

1.         Beas perelek merupakan tradisi Masyarakat Sunda yang merepresesentasikan falsafah  silih asih, silih asah, silih asuh. Pelaksanaan beas perelek yaitu menaruh beras sesendok makan atau sekepal tangan  pada bumbung awi yang ada di depan rumah kemudian diambil dan dikumpulkan  petugas. Hasil beras yang terkumpul nantinya digunakan untuk membantu masyarakat yang kekurangan atau digunakan untuk kepentingan bersama.

2.         Pengujian ordinasi rapfish dengan menggunakan analisis Monte Carlo untuk menilai kestabilan dari nilai indeks keberlanjutan (konteks penelitian) yang dihasilkan. Analisis tersebut memperlihatkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi adalah sebesar 76,62 nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 85,92, dan nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 85,06 pada skala sustainabilitas 0–100.

3.         Hasil dari pengujian tiga dimensi tersebut menunjukkan keberlanjutan tradisi beas perelek pada kategori baik dengan status berlanjut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                           

 

 

Bibliography

 

Alder, J., Pitcher, T. J., Preikshot, D., Kaschner, K., & Ferriss, B. (2000). How good is good?: A rapid appraisal technique for evaluation of the sustainability status of fisheries of the North Atlantic. Fish. Cent. Res. Rep., 8(2), 136–182.

 

Fauzi, A., & Anna, S. (2002). Evaluasi status keberlanjutan pembangunan perikanan. Aplikasi Pendekatan Rapfish. Jurnal Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan FPIK IPB, 43–55.

 

Global Hunger Index. (2019). Indeks Kelaparan Global 2019.

 

Nurhaidah, Musa, M. I. (2015). Dampak pengaruh globalisasi bagi kehidupan bangsa Indonesia. Jurnal Pesona Dasar, 3(3).

 

Peramesti, N. P. D. Y., & Kusmana, D. (2018). Kepemimpinan ideal pada era generasi milenial. TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan, 73–84.

 

Putri, K. A., & Amal, I. (2019). E-Perelek: Penguatan Pangan Melalui Inovasi Kebijakan Berbasis Modal Sosial dan Teknologi di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Simulacra, 2(1), 65–73.

 

RH Sumardhani, S. (2019). REVITALISASISEMANGATETHNICPHILANTHROPY. HUMANITAS, 1(1), 10–14.

 

Rusnandar, N. (2016). Beas Perelek: Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Purwakarta. Patanjala, 8(3), 301–316.

 

Shonhaji, A. (2017). Kearifan lokal dalam Desa Berbudaya: studi tentang pengelolaan desa di Desa Cilandak Kecamatan Cibatu Kabupaten Purwakarta. UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Supriyadi. (2017). Pengaruh Naungan Terhadap Pertumbuhan Selada Merah (Lactuca sativa L. Var. Red rapid) Secara Hidroponik Sistem Wick. Jurusan Agroekoteknologi. Universitas Jambi.

 

The Economist Intelligence Unit (EIU). (2017). Food Sustainability Index 2017. The Economist Intelligence Unit (EIU).